Friday, August 8, 2014

Menyikapi Fenomena Istilah JILBOOBS

Bismillahirahmanirahim,

Akhir akhir ini ramai dimedia sosial ( facebook, Twitter & Blog ) tentang adanya fenomena sebutan #JILB**BS. JILB**BS adalah sebuah singkatan yang terdiri dari kata JILBAB & B**BS ( saya sensor dan tentunya pembaca tahu maksud dari kata tersebut ) bagi mereka yang berjilbab namun masih menampakkan lekukan tubuh dengan pakaian yang ketat. Entahlah siapa yang pertama kali memulai menciptakan istilah JILB**BS ini, yang pasti saya banyak menemukan artikel artikel yang membahas tentang JILB**BS yang disertai dengan beberapa contoh foto para wanita yang berjilbab namun berpakaian ketat sehingga lekuk tubuh terlihat begitu jelas, sayangnya dalam artikel artikel yang saya temui gambar yang dijadikan sebagai contoh tidak diblur bagian wajahnya atau minimal gambar yang digunakan adalah berupa karikatur sehingga tidak membuat orang lain merasa tersinggung atau sakit hati karena foto dirinya menjadi contoh sebagai orang orang yang disebut sebagai JILB**BS. 

Saya sendiri termasuk orang yang tidak setuju dengan adanya istilah JILB**BS ( makanya saya kasih tanda perik bintang ) karena bagi saya istilah tersebut hanyalah sebuah olok olokan. Mungkin ada sebagian yang menggunakan istilah JILB**BS sebagai sebuah sindiran agar mereka yang berjilbab namun masih menggunakan pakaian ketat bisa sadar, tapi apakah cara itu efektif untuk menyadarkan mereka agar bisa berjilbab secara syar'i ?. Saya khawatir mereka yang malah tersinggung disebut sebagai JILB**BS malah akhirnya melepaskan jilbab yang sudah mereka kenakan, padahal jika saja kita mau bersabar dan memberikan kesempatan serta contoh tentang bagaimana seharusnya berjilbab secara syar'i tentu merekapun akan mau berubah secara perlahan lahan. 

Saya pikir sebagai seorang insan yang Allah karuniai HATI & AKAL kita sebaiknya merenung, bukankan dalam hidup ini semuanya butuh proses, bisa jadi mereka yang ( Mungkin ) berjilbab namun masih mengenakan pakaian yang ketat karena belum tahu tentang bagaimana seharusnya menggunakan jilbab secara syar'i. Maka tugas kitalah terutama para wanita yang sudah istiqomah dalam mengenakan jilbab secara syar'i untuk membantu saudara saudara kita untuk memberikan edukasi, contoh dan bimbingan bagaimana seharusnya muslimah dalam berbusana dengan menggunakan jilbab secara syar'i. Jangan hanya karena ketidaksesuaian mereka dalam berjilbab lantas dengan mudahnya kita menyematkan lebel JILB**BS kepada mereka. Saya memiliki beberapa teman dikampus yang mereka dulu awalnya tidak pernah menggunakan Jilbab bahkan cenderung menggunakan baju baju yang seksi, lambat laun mereka mulai tertarik dengan jilbab karena kebanyakan dari mereka dikelas mahasiswi mahasiswinya menggunakan jilbab, dihari pertama mereka menggunakan jilbab saya kira itu adalah suatu kemajuan walaupun mereka masih menggunakan celana jeans dan jilbab yang masih pendek tidak menutupi bagian dada. Pada suatu kesempatan mereka diajak untuk ikut dalam kegiatan mentoring kampus, ia pun dipertemukan dengan seorang kakak kelas yang menjadi kakak mentornya. Perlahan lahan mereka merubah gaya berbusananya yang awalnya mengenakan jilbab pendek serta jeans ketat kini mereka mengenakan jilbab yang lebar dan menggunakan rok serta pakaian yang longgar, itu semua karena mereka mendapatakan contoh, edukasi serta bimbingan dari kakak mentornya serta support dari teman temannya yang juga sudah lebih dahulu mengenakan jilbab secara syar'i agar lebih istiqomah dalam berjilbab secara syar'i.

Contoh lagi adalah, seorang dosen di kampus yang awalnya tidak berjilbab kemudian ia mendapatkan hadiah berupa kado yang ternyata isinya adalah jilbab dari seseorang mahasiswi yang juga dulu awalnya tidak berjilbab kini istiqomah untuk berjilbab secara syar'i, Alhamdulillah dosen tersebut hingga saat ini masih istiqomah untuk memakai jilbab. Kedua contoh diatas adalah beberapa solusi yang bisa kita jalankan untuk orang orang terdekat yang kita kenal agar mereka mau berjilbab dan bagi yang sudah berjilbab agar bisa istiqomah menggunakan jilbabnya secara syar'i.

Pesan saya diakhir tulisan ini adalah mari kita sama sama perbaiki diri dan saling menasehati dalam kebaikan bukan saling mencela dalam keburukan. Setiap insan pasti membutuhkan proses belajar yang tidak bisa dipukul rata setiap pemahamannya dalam mencerna apa yang dipelajari. Teringat pesan yang begitu indah dari gurunda Ustadz Salim A Fillah tentang bagaimana menyampaikan pesan yang baik, yaitu disampaikan dengan benar, tidak menyakiti, bermanfaat dan tidak menyakiti.


Wallahualambissawab,

Penulis,

Gunawan Alfarizi
 

0 comments:

Post a Comment