Thursday, October 17, 2013

Perjalanan Menjemput Bidadari Pendamping Hidup Part 1

Bissmillahirahmannirahim,

Segala puji dan syukur kepada Allah SWT yang senantiasa menganugerahkan hamba nimat islam, iman dan ihsan, Shalawat serta salam kepada Insan yang mulia Rasulullah Muhammad SAW yang akan tetap menjadi panutan bagi hamba dalam menjalani setiap episode kehidupan. Kali ini saya ingin sedikit berbagi cerita mengenai perjalanan hidup saya dalam menjemput bidadari yang akan menjadi pendamping hidup saya. Ikhtiar yang saya lakukan untuk bisa menjemput sang bidadari tentunya ada tantangan tersendiri, mulai dari kesiapan akan lahir dan bathin, restu orang tua, kecukupan akan materi, hingga menentukan siapa bidadari yang nanti akan saya jemput. Keinginan saya untuk menikah sudah lama terpendam yaitu pada tahun 2010 sejak saya lulus kuliah D3 di Politeknik Telkom Bandung, sebagai seorang fresh graduate tentu saya harus berpikir panjang tentang masa depan saya, mau apa saya setetelah lulus, dan saya pun memutuskan untuk mencari pekerjaan di jakarta sebagai ikhtiar saya untuk mengumpulkan bekal untuk persiapan nikah nanti. Di dalam catatan tembok rumah yang kini telah mengering yang saya tuliskan mimpi mimpi saya untuk 2 tahun mendatang salah satunya adalah ditahun 2012 nanti saya ikhrarkan dalam diri saya bahwa saya harus sudah menikah, lanjut kuliah S1 hingga lulus kuliah, dan punya penghasilan yang cukup. 

Menggoreskan mimpi


2011 hingga 2012 saya sangat menikmati profesi saya sebagai seorang engineer dengan penghasilan yang serba cukup, sayapun sedikit demi sedikit menyisihkan sebagaian rezeki yang saya miliki sebagai bentuk syukur saya kepada Allah SWT. Dan tak lupa munajat saya untuk bisa menunaikan mimpi yang telah saya tuliskan tak pernah lekang oleh kenikmatan yang telah saya dapatkan. 2011 Allah menjawab mimpi saya untuk bisa lanjut kuliah S1 di Institut Sains Dan Teknologi Nasional. Pikiran sayapun kini mulai bercabang, disisi lain saya harus fokus untuk studi dan disisi lain saya harus fokus bekerja dan menabung, dan sempat berkali kali terbelisit dibenak saya, KAPAN SAYA AKAN MENIKAH...?. Setiap saya pulang kerja dan masuk kekamar hal yang tak akan pernah saya lupa untuk senantiasa saya lakukan adalah mencoba menatap coretan rencana mimpi mimpi saya yang terukir permanen ditembok kamar seraya bermunajat " Ya Allah, kalaulah apa yang hamba impikan di tahun 2012 nanti membuat diri ini jauh dari Mu maka engkaulah yang berkuasa untuk menunda mimpi mimpi hamba, Engkau tahu apa yang terbaik untuk diri ini, maka hamba memohon diberikan pentunjuk dan bimbingan hidayahMu agar apa yang hamba impikan kelak menjadi jembatan agar hamba kian dekat denganMU".

Akhir 2011 Menjelang, keinginan saya untuk menikah kian kuat, dan keinginan yang In Shaa Allah baik ini saya sampaikan secara baik baik kepada kedua orang tua saya. Apalah daya mulanya saya optimis akan mendapatkan restu dan jawaban yang menggembirakan ternyata orang tua saya ingin saya fokus untuk berkerja dan menuntaskan kuliah saya hingga wisuda. Awalnya sedikit kecewa namun jika kekecewaan ini terus berkelanjutan saya khawatir Allah murka dengan sikap saya. Doa dan ikhtiar saya tak akan pernah pupus hanya karena restu yang belum saya dapatkan, bisa jadi inilah momentum bagi saya untuk lebih giat memperbaiki diri dan lebih mendekatkan diri kepada Allah karena sungguh saya yakin ada hikmah disetiap episode yang saya lalui. 

Seiring waktu yang kian bergulir, dengan segala kekurangan dan segala upaya untuk memperbaiki diri, Allhamulillah pertengahan 2012 sayapun kembali mengadakan dialog kecil sebagai bentuk curahan hati seorang anak bungsu yang memiliki keinginan mulia untuk bisa menunaikan separuh agama ditahun 2012 ini. Orang yang pertama saya ajak dialog adalah bapak, karena beliau selaku kepala rumah tangga yang lebih dekat dengan saya. Malam hari sepulang kerja saya sms bapak perihal keinginan saya untuk menikah, dan beliaupun memenuhi janjinya untuk berdialog ringan dengan saya pada malam harinya. Panjang lebar kami berdua berbincang, satu demi satu saya paparkan keinginan dan kesiapan saya, dan Allhamdulillah beliaupun memberikan respon yang baik, bahwa beliau setuju jika saya menikah dengan syarat saya harus LULUS KULIAH TAHUN 2012 INI. Saya pun menyanggupi syarat yang diajukan oleh bapak, kemudian bapak pun meminta saya untuk ngobrol ringan dengan umi terkait keinginan saya untuk menikah, sempat ada penolakan, namun lagi lagi Allah memberikan saya kemudahan untuk menjelaskan dan membujuk hati umi untuk memberikan saya restu, dan Allahmulillah beliaupun memberikan saya lampu hijau asalkan calon istri yang nanti akan saya pinang adalah sosok wanita shaliha. 

Bahagia tentu ada, namun beban pun juga ada, perhitungan saya untuk bisa lulus tepat waktu di tahun 2012 sepertinya belum bisa saya penuhi, dan menjelang akhir 2012 pun saya menyatakan diri untuk resign dari perusahaan. Dengan status sebagai mahasiswa yang menganggur tentu perasaan dari orang tua saya pun menanyakan persiapan dan kesanggupan saya untuk menikah nanti, kuliah belum selesai, sudah enak bekerja malah resign. Ya mungkin inilah skenario yang harus saya jalani, namun tetap keinginan saya untuk segera menikah tak pernah sirna.

Proses Taaruf


Taaruf, hmmmm adalah kata yang tidak asing lagi dikalangan para pemuda/i yang masih lajang. Keinginan saya untuk taaruf saya sampaikan dan diskusikan kepada Murabbi saya dipekan pertama pertemuan lioqat kami, Allhamdulillah beliaupun siap untuk membantu proses taaruf nanti, Saya diminta untuk menyediakan proposal / CV tentang diri saya untuk nanti di proses. Segera saya pun membuat CV taaruf yang tentunya saya pun mencari cari referensi tentang CV taaruf itu seperti apa. Allhamdulillah dibantu para senior yang sudah menikah, saya mendapatkan referensi CV yang cukup sederhana namun isinya tetap berkesan :D. Dalam semalam saya sudah selesai membuat CV taaruf. Singkat cerita sayapun ditanya apakah mau dicarikan atau memilih sendiri, dan saya memutuskan untuk memilih sendiri orang yang sebelumnya sudah saya kenal. Sebelumnya kami pernah beberapa kali  berjumpa ketika ada kegiatan training ESQ di Kampus, dan sempat hadir disatu acara yang sama. Beliau juga aktif dikegiatan Relawan dan juga Badan eksekutif mahasiswa dikampusnya. Allhamdulillah CV saya pun diproses oleh murabbi saya yang kemudian dikomunikasian via email murabbi sang akhwat. Selang satu minggu dari sejak saya menyerahkan CV taaruf, Allhamdulillah saya mendapatkan info dari murabbi bahwa ada respon yang baik dari pihak akhwat untuk menjajaki proses selanjutnya yaitu untuk bertemu di rumah murabbi dari pihak akhwatnya didaerah cimahi. Ahad pagi sebelum kami berdua ( saya dan Murabbi ) berangkat kecimahi, terlebih dahulu kami liqoat bersama dengan kawan kawan yang lain. Tanpa sepengetahuan dari kawan kawan selesai liqoat kami berdua berangkat menuju terminal lebak bulus. Dengan menggunakan bus primajasa Lebak bulus - Bandung saya pun menyiapkan beberapa note beruapa list pertanyaan, sepanjang perjalanan saya dan muraabbi tak pernah lepas tilawah Al-Qur'an. Tak ada bayangan apa apa dibekak saya sepanjang perjalanan menuju cimahi, yang ada hanya gemetaran gak karuan. Jam 1 siang kami sampai di daerah pasir koja dan sebelum kami menuju lokasi rumah murabbiah dari pihak akhwat kami berdua mencari masjid untuk menunaikan shalat dzuhur. Selesai menunaikan shalat Dzuhur kami berangkat menuju cimahi dengan alamat yang sudah ada di HP murabbi, dengan bekal bertanya ke penumpang Allahmdulillah kami turun dilokasi yang jaraknya masih jauh. Akhirnya kami berdua memutuskan untuk jalan kaki. sekitar 15 menit kami jalan kaki, dan adzan ashar pun mulai berkumandang dan kami pun singgah sejenak di masjid yang ada dipinggir jalan. Selesai shalat Hp murabbi pun berdering ternyata ada sms dari suami murabbiah  pihak akhwat yang menanyakan posisi saat ini dimana, dan Allhamdulillah ternyata rumah murabbiah sang akhwat pun tidak jauh dari masjid tempat kami shalat. Tiba tiba ketika kami hendak keluar masjid ada seorang bapak bapak menghampiri murabbi saya, " ini yang namanya mas gunawan ya..?? " " oh bukan pak, saya murabbinya, ini yang namanya gunawan" jawab murabbi saya. sama sama masih muda ya murabbi sama mutarabbi :D. Ternyata beliau adalah pak wawan suami dari umi kania selaku murabbiah sang akhwat.

Singkat cerita kamipun diantar oleh pak wawan menuju rumahnya tempat yang akan dijadikan sebagai prosesi taaruf . Rasa tegang kian melanda pas masuk kedalam ruang tamu, ternyata diruang utama sudah sang akhwatpun sudah hadir ditemani murabbinya yaitu umi kania. Saya dan murabbi pun dipersilakan masuk keruang utama, pembukaan proses taarufpun dimulai oleh pak wawan yang kemudian dilanjutkan dengan pengenalan dari murabbi saya, selanjutnya dari umi kania selaku murabbiah pihak akhwatpun memperkenalkan diri serta memperkenalkan akhwat yang ada disampingnya, beliau adalah farida aisyah. Kemudian tibalah saat saya memperkanlkan diri dan juga menyampaikan maksud dan tujuan kedatangan saya. Tanpa basa basi yang bertele tele saya memperkenalkan diri dengan singkat dan menyampaikan tujuan saya adalah untuk bertaaruf dengan ukhti farida aisyah dengan niat yang sungguh sungguh untuk bisa meminang beliau dalam waktu yang dekat. Jleb..!! 

Selanjutnya giliran ukhti farida aisyah yang berbicara, dan beliau menyatakan diri menerima taaruf dari saya dan beliaupun tidak ingin menunggu lama proses ini, supaya lebih terjaga lagi. Tanya jawab pun berlangsung ringan seputar kenapa saya memilih ukhti farida aisyah, kegiatan saat ini apa, apa yang diharapkan dari pernikahan nanti, dll Allhamdulillah tidak sampai 30 menit prosesi taaruf ini berlangsung, dan sayapun ditantang jika memang bersedia dan bersungguh sungguh maka saya harus datang seminggu setelah proses ini berlangsung untuk bertemu langsung dengan orang tua sang akhwat tanpa ditemani murabbi. Jleb..!!!

Proses taaruf yang berlangsung singkat ini diakhiri dengan doa dan tausiah dari pak wawan dan kamipun disuguhkan beberapa makanan ringan, karena memang saya dan murabbi sangat kelaparan sepanjang perjalanan :D. Selesai acara taaruf ini kami berdua pamit untuk pulang, dan tak disangka sangka ternyata ditengah perjalanan kami pulang ternyata hujan lebat melanda, basah kuyup badan kami pun tak terelakan, magrib pun hampir tiba dengan memberanikan diri tetap menerobos hujan yang tak kunjung reda, Allhamdulillah akhirnya kami menemukan masjid dipinggir jalan. Selesai shalat magrib kamipun menaiki angkot menuju pasir koja untuk naik bus primajasa. Tak disangka macet pun melanda, dengan sabar murabbi pun tetap tenang padahal esok harinya beliau ada diklat di bogor. Jam 7 Kami baru menaiki bus kearah bekasi, karena bus ke arah jakarta sudah tidak ada lagi yang lewat, Dengan baju yang basah ditambah AC yang lumayan dingin kami berdua menikmati perjalan hari ini. Allhamdulillah sampai pintu tol bekasi timur tepat pukul 10 kami tiba, dan saya pun harus menunggu murabbi sampai beliau dapat kendaraan untuk kejakarta, tak disangka bus tidak ada yang lewat dan terpaksa beliau naik mobil omprengan, dan saya pun memilih naik mobil Elf menuju cikarang. Rasa khawatir memikirkan murabbi yang lelah selama perjalanan dan rasa bahagia proses taaruf yang berkesan. Ternyata kami berdua sama sama sampai rumah jam 1 malam, puji syukur kepada Allah SWT tak terkira dan ucapan terima kasih yang dalam kepada sang murabbipun tak lupa saya ucapkan, perjuangan ini tidak akan pernah saya lupakan. :)

Untuk proses menghadap ke orang tua sang akhwat akan diceritakan di tulisan berikutnya :D


Penulis,







Gunawan Alfarizi,
Alumni Mahasiswa Politeknik Telkom Bandung dan Institut Sains Dan Teknologi Nasional |Teknik Telekomunikasi | Blogger Mania | Kontributor Penulis 165 |

0 comments:

Post a Comment