Friday, February 21, 2014

Dakwah Cinta Sang Da'i Diranah Pedalaman Dan Perbatasan

Bismillahirahmanirahim,

Pada kesempatan kali ini saya ingin sedikit berbagi cerita dari pengalaman beberapa orang da'i yang dibina oleh DDII ( Dewan Da'wah Islamiyyah Indonesia  ) yang bertugas untuk berdakwah di daerah pedalaman dan perbatasan, cerita ini saya dapatkan secara langsung ketika selesai menunaikan ibadah shalat Jumat di Masjid Al Mi'Raj STO Telkom Gambir dimana pada kesempatan tsb mereka mempresentasikan kepada para jamaah tetang kondisi dilapangan selama mereka berdakwah dan membina masyarakat yang ada disana. 

Menjadi seorang da'i tidaklah semudah seperti apa yang dibayangkan, terlebih lagi untuk bisa berdakwah di daerah pedalaman dan perbatasan karena tak hanya sekedar bekal ilmu yang diburuhkan tetapi juga mental dalam mengarungi setiap medan perjuangan disetiap jengkal ranah dakwah ditanah air tercinta. Terlepas dari segala macam rintangan yang menghadang bahwa menjadi seorang da'i tentu  merupakan tugas yang mulia untuk mengajak menusia berjalan pada jalan yang benar. Seorang ustadz yang mengemban tugas untuk berdakwah dan membina masyarakat dipedalaman dan perbatasan menceritakan bahwa untuk bisa mencapai tempat mereka bertugas membutuhkan waktu perjalanan yang cukup lama bahkan hingga berhari hari dengan menelusuri hutan, menyebarangi sungai dengan sampan kecil, menapaki jalan setapak yang begitu berliku liku dan terjal, tak hanya itu kadang para da'i yang sudah berkeluarga pun mengajak anak dan istrinya untuk ikut dalam ranah perjuangan ini, semuanya mereka lakukan semata mata hanya karena ingin mencari keridhaan Allah SWT dijalan dakwah yang indah ini.

Promlematika disetiap daerah yang menjadi tempat bagi setiap da'i untuk berdakwah dan membina masyarakat memiliki cerita yang berbeda beda. Di perbatasan salah satu pulau kecil dekat dengan bengkulu misalnya, seorang ustadz yang berdakwah disana menceritakan bahwa di daerah pedalaman sana ternyata banyak mualaf yang hampir 1 tahun sejak mereka menjadi mualaf mereka tidak menunaikan shalat jumat hanya karena disana tidak ada masjid dan juga khatib, karena masyarakat disana masih buta huruf dan belum bisa mengaji karena keterbatasan orang yang bisa membimbing mereka. Dan Allhamdulillah ketika beberapa orang da'i mulai masuk dan bertugas disana kegiatan pengajian dan bimbingan masyarakat diantaranya adalah mengajarkan mereka membaca dan mengajarkan mereka ilmu ilmu dasar agama kini mulai aktif kembali. Tak hanya itu masyarakat yang ada dipedalaman yang dulunya hanya mengkonsumsi sagu kini mereka bisa mengkonsumsi jagung dan kacang kacangan karena beberapa orang da'i memberdayakan lahan masyarakat untuk ditanami tanaman jagung dan kacang kacangan.

Cerita lainnya adalah ada seorang ustadz yang ditugaskan untuk berdakwah di didaerah pedalaman mentawai disana ia juga menghadapi berbagai macam problematika masyarakat yang harus ia bantu dan berikan solusi, disana ada seorang ibu yang curhat kepada sang ustadz bahwasanya ia ingin sekali bisa menunaikan ibadah shalat disalah satu masjid diseberang perbatasan, namun apa daya ia tak punya jilbab dan mukena untuk ia kenakan sebagaimana para muslimah disini gunakan, mendengar hal itu sang ustadz pun menitikkan air matanya, ia pun berusaha sekuat tenaga untuk bisa mendatangkan beberapa jilbab dan mukena serta perlengkapan shalat lainnya agar bisa digunakan oleh masyarakat yang membutuhkan, dan Allhamdulillah selalu ada jalan kemudahan yang Allah berikan, setahun kemudian ada beberapa sumbangan yang masuk berupa mukena, jilbab dan perlengkapan shalat untuk dibagikan.

Didaerah pedalaman mentawai juga sangat minim bangunan yang bisa digunakan untuk mengajarkan anak anak membaca dan mengaji, mungkin kita pernah mendengar kisah laskar pelangi dari daerah belitung dimana bangunan sekolah disana sangatlah rapuh sehingga temboknya harus disangga dengan menggunakan kayu panjang yang besar agar bagunan tak runtuh, sebagaimana kisah para ustadz didaerah mentawai disana berinisiatif membangun sebuah bangunan sederhana yang lantainya hanyalah hamparan pasir tanpa pondasi, dengan balutan kumpulan seng sebagai tembok pelindung serta atap kayu yang sudah rapuh, apabila hujan dan angin datang tak dapat dihindari angin dan air pun masuk kedalam, namun dalam kondisi tersebut Allhamdulillah masih ada anak anak yang rajin datang untuk belajar membaca dan mengaji. 

Salah satu cerita yang saya sangat ingat dari pemaparan rekan rekan da'i dari DDII ini adalah bagaimana para da'i berjuang untuk bertahan hidup dengan perbekalan yang sangat minim untuk dibagi beberapa orang, suatu ketika para da'i harus bertahan hidup daerah pedalaman hutan, dimana disana tentu tidak bisa dengan mudah kita temukan akses jalan yang mulus, warung makan apalagi sinyal seluler, tapi kesulitan itu tak membuat mereka menyerah untuk bertahan hidup dan tetap berjuang untuk berdakwah dipedalaman sana, sampai pada akhirnya mereka selama berminggu minggu hanya memakan dedaunan yang ada dihutan hanya untuk mengganjal perut mereka yang lapar. Mereka pun sempat menceritakan kondisi ini kepada seorang ustadz senior, " mengapa kalian tidak membeli beras saja untuk dimasak " para da'i muda tsb menjawab " kami tidak punya uang yang cukup untuk membeli beras" kemudian sang ustadz pun memberikan kemudahan untuk memilih tempat atau daerah lain yang lebih mudah untuk mereka akses, namun mereka menolak dan mereka berkata " kami ikhlas jika kami hanya memakan dedauan ini untuk memenuhi kebutuhan kami berdakwah dipedalaman, karena mungkin dengan jalan inilah kami bisa mendapatkan ridho Allah SWT, kami khawatir jika kami dipindahkan bisa jadi kami tidak mendapatkan ridho Allah SWT".

Para da'i yang berdakwah dipedalaman dan perbatasan harus mengenal medan dan juga karakter dari penduduk disana, sehingga mereka bisa dengan mudah untuk membangun komunikasi yang baik dan kehadiran mereka diterima ditengah lingkungan masyarakat. Pernah suatu ketika seorang ustadz menemui seseorang yang baru menjadi mualaf, dan terjadi dialog yang kurang lebih seperti ini :

Ustadz : Perubahan apa yang bapak rasakan setelah bapak masuk islam,..?
Mualaf : Ustadz, Allhamdulillah sejak saya masuk islam, ternak Babi Saya makin banyak,...

Ustadz tsb pun berpikir dam mencari solusi bagaimana caranya agar si bapak yang mualaf ini tidak lagi berternak babi, karena jelas dalam islam itu tidak diperbolehkan, namun cara yang ustadz tsb lakukan adalah "TIDAK LANGSUNG BILANG BAHWA BABI ITU HARAM " karena ia tahu bisa jadi ketika sang ustadz bilang babi itu haram pada saat dialog tsb terjadi, mungkin saja bapak yang mualaf itu malah keluar dari untuk tidak memeluk islam lagi, kemudian ia pun perlahan lahan tapi pasti mencari solusinya yaitu adalah MENGGANTI HEWAN TERNAK BABI DENGAN HEWAN TERNAK YANG BIASA KITA GUNAKAN UNTUK QURBAN & AQIQAH YAITU KAMBING/DOMBA DAN JUGA SAPI, Dan Allhamdulillah bapak yang mualaf tsb saat ini tidak lagi Berternak Babi melainkan berternak kambing.

Pelajaran yang sangat berharga untuk kita ambil dari dialog ini adalah sebagaimana yang disampaikan oleh Ustadz Salim A Fillah bahwa untuk Berkata yang baik itu tak cukup berkata yang benar, tapi benar dalam isi, indah dalam cara, tepat pada waktunya.
Tak hanya sekedar ilmu, tetapi juga mental, semangat, serta ide ide brilian untuk bisa menyalakan setitik cahaya peradaban didaerah pedalaman dan perbatasan, dengan bahasa yang mudah mereka cerna dan mereka terima.

Maka kita ingat pesan dari syaikh Hasan Albana, beliau berkata “Nahnu Du’at qabla Kulli Syai in”. Kita adalah da’i sebelum menjadi apapun, bahwa pada hakikatnya seorang muslim itu adalah pendakwah, karena sungguh masih banyak di pelosok sana tempat tempat yang didalamya banyak orang orang yang butuh pertolongan kita untuk kita ajak kejalan yang benar, sudah bukan waktunya lagi kita sibuk berdebat didunia maya dengan melemparkan berbagai dalil hanya karena adanya perbedaan pendapat, saatnya kita saling merangkul dan menguatkan barisan dalam dakwah ini agar umat bisa merasakan nikmatnya dan indahnya islam, bagi kita yang belum mampu untuk berdakwah dipedalaman maka masih banyak tempat yang bisa kita jamah untuk kita menebar cahaya islam disana, baik dikampus, dikantor, maupun lingkungan tempat kita tinggal saat ini. Dan sudah seharusnya kita menyisihkan sebagian harta kita untuk membantu mereka yang berjuang berdakwah dipedalaman dan perbatasan sana agar mereka bisa tetap bertahan dimedan juang yang penuh dengan aral serta rintangan. Sebagaimana pesan dari Pak Natsir bahwa jika dakwah tidak ada kesulitan dan rintangan, jangan-jangan ada yang salah dengan dakwah kita. Karena dakwah adalah kebenaran, maka sudah pasti akan mendapat hambatan dari musuh-musuh dakwah,” Tapi kita juga harus ingat janji Allah, Bahwa orang-orang yang menolong agama Allah pasti akan ditolong olehNya. Kemudian Tak lupa doa kita untuk mereka yang berjuang dan berdakwah disana semoga Allah berikan kekuatan baik kekuatan iman, mental serta fisik dan juga perlindungan dari hal hal buruk yang menghalangi jalannya dakwah para da'i disana.

wallahualam bissawab

 21/02/2014

Masjis Al Mi'raj STO Telkom Gambir

Penulis,

Gunawan Alfarizi,




0 comments:

Post a Comment