Monday, June 4, 2012

Pengemis, penjual serabi dan bapak yang dermawan

Pukul 19.30 WIB tepatnya di daerah kelor jakarta pusat saya biasa menunggu bus mayasari AC 122 Jurusan Cikarang-Senen. Tempat yang tak asing lagi bagi saya, namun pada kesempatan kali ini saya ingin menceritakan selembar kisah tentang Pengemis, penjual serabi dan bapak yang dermawan. Ya di daerah kelor waktu Hari Kamis 24 Mei 2012 saya berdiri menunggu bus di depan rumah makan padang. Tepat di belakang saya ada 2 orang pengemis mereka adalah nenek tua. Nenek Yang satu dengan baju hitam yang lusuh dan kain batik serta buntalan pakaian sedang menggelar kain sambil tiduran  di lantai samping RM padang, dan nenek yang satunya lagi dengan menggunakan kerudung putih dan baju warna merah serta tas yang lusuh sedang asyik menghitung uang yang di dapatkannya. Sambil saya lirik lirik ternyata uang yang di dapatkannya dari hasil mengemis sangat banyak. Ada banyak uang Rp.2000,- bertumpuk tumpuk dan uang Rp.1000,- yang jumlahnya tak sedikit. Ya mungkin itu hasil ia mengemis hari ini. Sang nenek tua yang ada disampingnya pun hanya bisa melihat saja. Sesekali saya merasakan seolah olah sang nenek ini pun sepertinya ingin bisa mendapatkan uang yang banyak. Hampir 30 menit saya masih berdiri dan tetap melirik lirik aktifitas kedua orang nenek ini. Tiba tiba di depan saya ada seorang bapak dengan menggunakan kaos warna putih yang menjinjing belanjaan dari alfamart memberikan uang kepada kedua orang nenek tadi. Tentu sang nenek yang uangnya banyak tadi menyembunyikan uang yang banyak tadi agar tidak di ketahui sang bapak yang dermawan ini. Dalam hati  saya sempat berkata " Jika satu hari saja dapat Rp.50.000,- maka jika di kalikan salam 1 bulan pasti sangat besar jumlahnya. Setelah selesai menghitung uangnya tadi sang nenek berbaju merah ini pun langsung beres beres dan tibalah bus jurusan bekasi timur - senen. Spontan sang nenek pun langsung berlari menaiki bus tersebut dengan membawa tas lusuh yang berisikan uang ribuan. Sementara sang nenek tadi hanya bisa bengong dengan hasil yang dia dapatkan hari ini. Inilah gambaran realita yang ada di jakarta yang saya temua setiap harinya. Mengemis seolah olah menjadi sebuah profesi. Padahal banyak cara yang baik untuk bisa mendapatkan uang. Tentunya dengan banyak usaha yang bisa kita lakukan. Perlu peran pemerintah dan masyarakat untuk bisa mengedukasi para pengemis untuk bisa bekerja atau membuka usaha. Lanjut malam masih menjelang dan bus yang saya tunggu pun belum tiba. Saya melihat ada seorang nenek sedang mendorong kotak kecil yang ternyata berisikan kue serabi. Ya perut saya pun lapar karena belum sempat berbuka dengan nasi. Saya pun penasaran apa yang di jual sang nenek akhirnya saya beranikan diri untuk membeli satu kantong plastik serabi yang isinya ada 5 buah serabi. Dengan harga Rp.5000,- per plastik sang nenek itu pun menjualnya dengan ramah kepada saya. Uang yang saya berikan kepada sang nenek adalah Rp.20000,-. Karena saya mera iba maka saya pun menolak untuk di berikan uang kembaian "silakan uang kembaliannya nenek simpan saja untuk tambahan modal nenek bikin kue", sang nenek ternyata menolak " gak usah dek, ambil saja uangnya, uang ini udah cukup buat nenek jualan " hmmmmmm akhirnya saya pun ambil jalan tengah, "ya udah nek saya beli dengan sisa uang kembalian ini lagi ya" akhirnya saya beli Rp.20000,- kue serabi dan saya pun mendapatkan 4 plastik kue sarabi. Subhanallah dalam hati saya hanya  bisa mendoakan semoga Allah melancarkan rezeki sang nenek.

Semoga dua orang nenek pengemis tadi bisa berusaha keras dalam mencari nafkah seperti sang nenek penjual serabi.


Gunawan alfarizi

MNC 05/06/2012

0 comments:

Post a Comment