Friday, January 3, 2014

Jangan Ada Egois Diantara Kita

Bismillahirahmanirahim,

Saya awali tulisan ini dengan sebuah cerita yang saya alami sewaktu saya pulang kerja dari Telkom Gambir menuju Cikarang. Menikmati Cuaca Jakarta yang sedang panas panasnya sambil menunggu bus ke arah Cikarang yang biasa melintas diperempatan Kampus UI salemba. Tak terasa badan mulai berkeringat, hingga dahi, leher, sampai telapak tangan ikut basah karena suhu yang lumayan panas, tak ada awan yang lewat siang itu, sesekali suasana sejuk lewat dari banyaknya mobil bus dan mobil pribadi yang berlomba lomba menancap gas nya ketika lampu hijau mulai menyala. Tak perlu dibayangkan sejuknya angin yang lewat hanyalah sementara, belum lagi ditambah asap kenalpot yang semerbak aroma bahan bakarnya. Sesekali seteguk air memberikan kesejukan bagi tenggorokan yang kering dan lambung yang kosong belum terisi makanan, Tibalah bus 122 Jurusan Senen - Cikarang, tak seperti hari biasanya ternyata hari libur pun bus tetap terisi penuh oleh para penumpang yang ramai ramai belanja di pasar senen dan jatinegara. Berharap bisa menikmati kursi yang empuk tetapi harapan itu pupus karena hanya bisa berdiri berdesak desakan dengan penumpang yang lain serta banyaknya barang belanjaan yang menambah sempit dan sesaknya kondisi didalam bus. Bau ketiak dan asap rokok menambah aroma selama perjalanan menuju bekasi, hmmmm nano nano rasanya.

Memasuki rute depan stasiun jatinegara saya melihat ada seorang kakek tua dengan peci hitam dan tas ransel gaya abg menakiki bus yang saya tumpangi, posisi beliau ada dibelakang saya yang juga sama sama sambil berdiri. Dengan tubuhnya yang saya lihat sudah sangat tua, mata yang sayup, bibir yang kering dan keringat yang mengguyur beliau tetap bertahan untuk berdiri di bus yang sesak ini. Tak ada rasa iba dari pemuda yang duduk sambil menikmati musik, atau bapak bapak yang santai sambil merokok untuk sekedar memberikannya duduk sejenak, karena sesekali saya perhatikan ia seperti sedang mengantuk dan tubuhnya seperti ingin jatuh ke lantai bus, perjalanan kurang lebih 2 jam melintasi jalan tol yang padat merayap. 

Tibanya bus di tol bayangan Jatibening, tiba tiba terdengar suara " bruuuk" saya menoleh kebelakang dan ternyata sang kakek pingsan. Heran seribu heran orang orang yang duduk disamping dekat sang kakek tersebut pingsan, tak ada satupun yang bangun untuk menolong malah membuang muka, dan tak ada satupun dari mereka yang duduk untuk mau bangun dari tempat duduknya untuk mempersilakan sang kakek berbaring, begitu juga dengan bapak bapak yang sedang beriri dengan kondisi badannya segar bugar dengan rokok ditangan kanannya hanya bisa berkata " bantuin tuh bantuin," tanpa mau mengulurkan tangannya untuk membantu. sang kakek masih tertidur dilantai bus yang kotor, tanpa banyak berpikir saya menerobos barisan penumpang yang berdiri dengan cuek dan hanya bisa menonton, saya angkat badannya dan saya sandarkan badannya pada bahu saya yang masih basah oleh keringat. 

Dengen berbekal air minum yang hanya tinggal setengah saya bantu sang kakek untuk minum, namun tidak bisa karena beliau masih pingsan, saya langsung telepon istri untuk menanyakan penanganan untuk orang yang pingsan dan saya pun diarahkan untuk meregangkan bagian kancing celana dan memberikan sang kakek sedikit aroma terapi agar ia bisa sadar. Tak ada yang berani menyentuh atau membantu untuk menolong sang kakek untuk naik ke kursi yang mulai di kosongkan, saya angkat beliau dibantu seorang kondektur. Badannya dingin, wajahnya pucat, napasnya seperti hilang, saya pun panik dengan kondisi sang kakek, Terlihat disakunya terdapat sebuah Handphone dan saya beranikan untuk mengambil dari sakunya dan saya cari no yang bisa saya hubungi, dan Allhamdulillah ada nama yang bisa saya hubungi dan no itu adalah kerabat beliau, nama bapak yang saya hubungi itu adalah pak edi, babinsa dari desa sukatani daerah cikarang, saya tanyakan pada beliau ada kakek yang sedang pingsan dan saya tidak tahu namanya, dan akhirnya pak Edi pun memberkan informasi bahwa sang kakek yang pingsan tersebut adalah pak syamsudin warga sukatani. Segera pak Edi langsung sigap menghubungi keluarga pak syamsudin di rumah dan kami pun janjian untuk bertemu di terminal cikarang barat. Setelah saya selesai menelpon pak Edi, pak Syamsudin pun mulai sadarkan diri, saya berikan beliau minum dan sedikit makananan, dan ternyata memang benar beliau belum mengisi perutnya dari pagi hingga siang, dengan kondisi tubuh yang masih lemas saya ajak pak Syamsudin ngobrol untuk mencari informasi tempat beliau tinggal, dan berliaupun memberikan informasi yang lengkap mengenai tempat tinggalnya, namun sayang beliau tidak memiliki no ponsel dari keluarga ataupun anak anaknya. Ucapan terima kasih beliau kepada saya tak henti hentinya beliau ucapkan. Sampai tol gerbang cibitung saya langsung menelpon kakak dirumah untuk segera bawa mobil untuk menjemput saya di terminal Cikarang Barat sekaligus untuk mengantarkan pak Syamsudin pulang kerumahnya, Allhamdulillah sesampainya diteriminal saya berjumpa dengan anak perempuan dari pak Syamsudin beserta menantunya yang sedang menaiki motor untuk menjemput pak Syamsudin pulang, Namun saya menawarkan aga pak Syamsudin pulang dengan mobil saya dan juga kakak saya karena kondisi mulai gerimis, sesampainya dirumah haru dan rasa khawatir dari keluarga pak Syamsudin pun mulai mereda seiring gerimis yang mulai mereda, saya pun dikenalkan dengan keluarganya, sambutan hangat dan rasa terima kasih keluarga pak Syamsudin kepada saya adalah sebuah doa, agar saya bisa senantiasa istiqomah dalam kebaikan untuk menolong sesama.

Hingga saat ini komunikasi saya dengan pak Syamsudin pun masih terjalin dengan baik, semoga saya bisa kembali silaturahmi dengan pak Syamsudin dan keluarga :)

Hikmah yang bisa saya ambil dari kejadian ini adalah, bahwa kita sebagai insan yang memiliki akal dan perasaan serta sebagai makhluk sosial yang juga membutuhkan kehadiran pertolongan orang lain, sudah seharusnya untuk mau membantu dan menolong siapapun yang sedang dalam kesulitan, bukankah menolong sesesama adalah perbuatan yang mulia dihadapan Allah SWT." Jangan ada egois diantara kita " karena sungguh egois hanya akan menyengsarakan diri kita dan orang lain, jadilah insan yang ikhlas dalam menolong sesama dimanapun dan kapanpun kita berada. :)

Penulis,

Gunawan Alfarizi


0 comments:

Post a Comment