Wednesday, January 6, 2010

Kekuatan itu di Pagi Hari

Kekuatan itu di Pagi Hari

“Barangsiapa yang melakukan shalat berjama’ah, waktu isya, maka ia seolah melakukan sholat separuh malam. Barangsiapa yang sholat subuh dengan berjamaah maka ia seperti sholat satu malam penuh (HR Muslim).
Entahlah. Biarlah hati kita masing-masing yang bicara bila membaca wasiat langsung pelaku bom syahid termuda di Palestina, Muhammad Fathy Farahat. Umurnya baru beranjak 17 tahun.
“Saudaraku umat Islam, ketahuilah sesungguhnya shalat subuh berjamaah adalah rahim yang melahirkan para pejuang dan pahlawan. Ia adalah tempat peraduan orang-orang ikhlash. Melaksanakan shalat subuh berjamaah adalah ciri-ciri para mujahidin, indikasi kemenangan dan sifat orang-orang shalih. Sungguh amat banyak kebaikan yang tak terniIai di waktu itu.”
Wasiat itu ditulis Farahat pada hari jumat, 1 Maret 2002, satu hari sebelum ia melakukan serangan yang mengantarkannya pada kematian yang ia dambakan. Shalat subuh berjamaah. Demikian penting dan hebatkah pengaruhnya? Begitu muliakah waktu itu hingga ia menjadi salah satu diantara rahasia para pejuang Palestina yang tak pernah takut menghadapi meriam tank Israel? Yang tak pernah gentar dengan serangan rudal. Bahkan tak gemetar melakukan aksi serangan bom meraih syahid. Subhanallah…
Bagaimana dengan keadaan kita, saudaraku? Bayangkanlah, bagaimana jika kita adalah seorang murid sekolah. Kita, adalah satu satunya murid di kelas yang paling sering datang terIambat. Kita datang selalu setelah bunyi bel masuk dan teman-teman sudah berada di tempat duduknya masing-masing siap menerima pelajaran. Bapak atau ibu guru sudah di depan kelas, siap untuk mulai menerangkan pelajaran. Bagaimana pandangan teman-teman sekelas kepada kita? Bagaimana pandangan ibu atau bapak guru kepada kita? Apa yang berkecamuk dalam hati kita saat itu?
Atau taruhlah, kita seorang karyawan di sebuah kantor. Kita, satu-satunya karyawan kantor yang kerap terlambat masuk kantor. Kita hampir selalu gagal untuk hadir sebelum jam kerja yang ditetapkan. Kita datang saat roda kesibukan sudah mulai berjaIan. Kita pun, beberapa kali ditegur oleh atasan yang bertanya kenapa selalu terlambat. Bagaimana suasana hati kita berada di tengah keadaan seperti itu? Menyesal? Malu? Bingung? Bayangkan lagi, apa hukuman yang akan kita terima jika kita terus menerus melakukan kesalahan serupa.
Saudaraku, bandingkan ilustrasi di atas dengan keadaan kita yang lain. Jika kita berada di antara orang-orang yang disiplin melakukan shalat subuh berjamaah. Sementara kita selalu tertinggal untuk shalat subuh berjamaah di masjid. Mungkin kita sudah berusaha, menyediakan jam dering yang akan membangunkan kita untuk segera bersilap ke masjid. Tapi, barangkali tak sedikit di antara kita yang hanya mematikan dering yang tugasnya mengingatkan kita itu, kemudian kita tidur kembali. Kita lalu menyesal, tapi mengulanginya kembali di esok hari. Waktu pagi adalah nikmat Allah yang sangat mahal. Merdunya kokok ayam yang saling bersahutan. Indahnya alunan adzan. Sendunya bacaan Al Qur’an yang berkumandang. ltu adalah momentum segala kebaikan sekaligus anugerah Allah yang sangat sulit terbandingkan nilainya, dengan apapun.
Dengarkanlah sabda Rasulullah saw, “Barangsiapa yang melakukan shalat berjamaah, waktu isya, maka ia seolah melakukan shalat separuh malam. Barangsiapa yang sholat subuh dengan berjamaah maka ia seperti sholat satu malam penuh” (HR Muslim). Subhanallah.
Saudaraku, Rasulullah saw, memberi keterangan yang sangat singkat. Tetapi sungguh sangat padat dengan motivasi. Lihat bagaimana Rasul saw juga mengetuk hati kita untuk memelihara shalat subuh di awal waktu.
“Barangsiapa yang shalat subuh, maka ia berada dalam lindungan Allah.” (HR. Muslim).
Siapa yang tak ingin dilindungi Allah? Di tengah roda hidup yang penuh fitnah. Di sela dem cobaan yang datang bergantian. Hidup yang sangat membutuhkan kesabaran dan sandaran pada Allah Yang Maha Kuasa. Perlindungan Allah adalah perlindungan yang tak dapat ditembus atau disentuh oleh siapapun. Perlindungan yang hanya diberikan kepada seorang mukmin yang benar-benar tunduk dan menyandarkan diri pada-Nya.
Shalat subuh berjama’ ahlah yang akan memberi ketenangan bathin dalam menjalani kehidupan di siang hari. Sholat subuhlah yang akan memberi keyakinan dan ktkokohan hati. Agar kita tetap merasakan pantauan Allah dalam melakukan aktivitas sepanjang hari. Itulah perlindungan Allah.
Saudaraku, Apa yang ada di benak kita mendengar sabda Rasulullah saw, “Beritakanlah kabar gembira bagi orang-orang yang berjalan ke masjid di waktu gelap (di pagi hari), dengan cahaya yang sempurna di hari kiamat.” (HR. Ibnu Majah). Perhatikan kalimat kunci yang ada dalam sabda Rasulullah itu. Kegelapan yang diiringi dengan cahaya. Kegelapan pagi hari di waktu subuh, diiringi dengan cahaya yang sempurna di hari kiamat. Bagaimana benderang dan bersinarnya cahaya yang ada di antara gelap? Semakin pekat kegelapan, maka cahaya akan semakin berarti. Kita berada padajanji Allah di setiap waktu shalat fajar dan ashar. Pada dua kesempatan itulah, diajukan laporan harian yang ditulis oleh malaikat kepada Allah. “Malaikat siang dan malaikat malam datang dan pergi kepada kalian pada waktu malam. Mereka berkumpul di waktu shalat Subuh dan shalat Ashar, kemudian malaikat yang ada bersama kalian naik ke langit Allah bertanya kepada mereka (dan Allah Maha Tahu), “Bagaimana kalian tinggalkan hamba-hamba-Ku?” Mereka menjawab, “Kami tinggalkan mereka sedang melakukan shalat. Dan kami datangi mereka sedang melakukan shalat” (HR. Bukhari Muslim).

Saudaraku, Yakinlah, bahwa waktu subuhlah yang akan menjadikan kita memiliki pribadi yang istimewa. Waktu ‘gelap’ itulah yang justru akan memberi kita cahaya yang terang benderang, di duma mapun di akhirat. Kala malam di ujung penghabisan malam, bergegaslah membasahi diri dengan wudhu lalu ketuklah pintu penghambaan kepada Allah. Dengarlah ungkapkan Abdullah bin Mas’ud, “Selagi engkau berada dalam shalat, berarti engkau sedang mengetuk pintu Allah. Dan, siapa yang mengetuk pintu Allah, maka pintu itu akan dibukakan untuknya.
Dari Taujih Ruhaniyat di majalah Tarbawi tulisan Ust.Muhammad Nursani.

0 comments:

Post a Comment