Thursday, December 22, 2011

Hidup Tak Mengenal Siaran Tunda

Hidup Tak Mengenal Siaran Tunda
Setiap potongan waktu adalah momentum. Setiap penggal masa adalah kesempatan. Masing-masing punya fungsi dan karakternya. Hari Senin ini bukan hari Senin kemarin, meski namanya sama. Jum'at ini juga bukan Jum'at kemarin. Meski sama-sama Jum'at.

Potongan-potongan waktu itu tak semata cukup difahami sebagai kumpulan menit atau juam, saat kita menyelesaikan pekerjaan, menyempatkan tidur, istirahat, berolahraga, beribadah, bercengkrama dengan keluarga, bepergian, atau melakukan kegiatan lainnya. Tak cukup hanya itu. Sepotong waktu adalah momentum. Semacam pelontar, yang bisa melemparkan diri kita ke puncak sukses, atau sebaliknya menjungkalkan kita ke jurang kegelapan.

Maka momentum hidup tak saja saat orang merayakan ulang tahunnya. Atau saat dtang hari raya. Atau saat usianya telah menginjak dewasa. Atau saat baru saja lulus sekolahnya, kuliahnya. Atau saat perkawinannya telah berusia setengah abad. Itu semua bisa menjadi momentum. Tapi hidup jauh lebih kaya. Ada berjuta momentum, jauh lebih banyak dari sekadar saat-saat datangnya musim perayaan seperti itu.

Pagi yang menyapa dalam hangatnya adalah momentum. Saat kita memulai hari baru. Adakah ini akan kita isi dengan kebajikan, ataukah dengan kekerdilan? Siang yang terik adalah momentum. Saat tepat kita mendenginkan diri melalui termim pertama ibadah siang. Ada jeda untuk mengisi ulang spirit. Saat petang menjelang adalah momentum. Ketika mengakhiri penat. Malam yang sunyi adalah momentum, saat kita merunduk dalam diam. Bertanya kita pada batin yang jujur, apakah hari ini telah kita lewati tangga-tangga menuju kebaikan hidup?

Begitulah, dalam kelebat lajunya yang sangat cepat, waktu dan hidup membeti kita momentum, bahkan pada detik-detiknya. Seperti kisah pengendara jalanan yang nyaris tewas, ketika ada sepotong momentum untuk menghindari kecelakaan. Maka sekian detik adalah nyawa. Setidaknya dalam hitungan manusia. Ia pun selamat. Setiap momentum punya fungsi dan fasenya sendiri. Tidak tergantikan oleh yang lain. Begitulah. Karena hidup memang tak mengenal siaran tunda. Apa yang jatahnya detik ini, berlaku pula hari ini. Tidak mungkin ditunda sampai besok.

Setiap waktu punya cacatan nilainya sendiri. Di sisi Allah swt. Karya pada sebuah momentum, tidak saja dinilai dari karya itu sendiri, tapi juga dari sisi pemanfaatan momentum itu. Bahwa kita tidak menyia-nyiakan kesempatan. Maka disinilah kita memahami, mengapa kelak, setiap manusia akan ditanya tentang waktu yang dilaluinya, untuk apa dihabiskannya. Rasulullah bersabda, "Tidak akan melangkah kedua kaki seorang hamba pada Hari Kiamat hingga ditanya empat perkara. Usianya, untuk apa dia habiskan. Masa mudanya, bagaimana ia habiskan. Hartanya, darimana ia dapatkan dan pada jalan apa dia keluarkan. Serta ilmunya, apa yang telah ia perbuat dengannya."

Memang, bukan waktu itu sendiri yang punya daya lempar dan kekuatan lontar. Tapi cara kita menggunakannya sebagai momentum. Cara kita menjadikan sepenggal kesempatan itu dengan sebaik-baiknya. Masalahnya, kita tidak pernah tahu pada momentum yang mana kita akan sukses atau gagal. Maka, pada setiap potongan momentum dan kesempatan itu kita seperti berjudi. Gagal atau sukseskah? Lancar atau tersendatkah?


Justru di sinilah letak serius masalahnya. Seperti kematian yang sangat-sangat gelap tibanya, seperti itu pula arti momentum bagi perjalanan hidup kita. Kita tak pernah tahu, apakah sebuah keputusan pada sebuah momentum akan mengantarkan kita kepada kebaikan yang berkesinambungan, pada kesuksesan dan kejayaan. Kita tak akan pernah mengerti, pada momentum yang mana dari keseluruhan hidup ini, kita akan memulai kesuksesan. Atau sebaliknya kita akan menuai kegagalan. Isyarat sukses dan gagal mungkin bisa dicerna pada aspek perencanaan hidup. Tapi tetap saja tak bisa dipastikan. Momentum hidup memberi kita arti penting sebuah kesempatan, yang menyambungkan dengan kesempatan lain. Itu sebabnya setiap kesempatan itu berharga. Momentum dalam hidup seperti sebuah batu loncatan. Tempat kita menghentak untuk melompat lalu mendapatkan daya dorong baru, kekuatan baru, dan menghasilkan karya baru.

Yang lebih penting dari itu semua, adalah memaknai seluruh rentang hidup ini sebagai momentum. Detik demi detiknya. Hari demi harinya. Orang-orang yang hanya bergantung pada momentum-momentum seremonial yang langka, akan menjadi sangat miskin kesempatan. Bila hanya ulang tahun saat untuk memperbaikai diri, alangkah sedikitnya kesempatan untuk menjadi lebih baik. Bila hanya saat lulus sekolah untuk meningkatkan kualitas diri, alangkah miskinnya kita dari kesempatan untuk menjadi lebih baik.

Memaknai hidup seluruhnya sebagai momentum, adalah ruh dari kemengertian kita tentang arti kerugian, bila kita menyia-nyiakan hidup. Itulah yang bisa kita rasakan dari firman Allah swt dalam surat Al'Ashr 1-3, "Demi masa. Sesungguhnya manusia itu banar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran."

Iman sebagai penolak kerugian, harus ada sepanjang hayat.. Itulah fondasi utama dari seluruh momentum hidup. Amal salih demikian juga. Karya itu harus sambung menyambung. Sementara nasehat menasehati adalah semangat mekanisme recovery, di tengah perjalanan hidup yang kadang keliru. Maka nasehat adalah pengarah, pembersih debu kesalahan, sekaligus penguat kesabaran.

Setiap kesempatan punya kadarnya sendiri. Seperti tiap zaman yang punya manusianya sendiri. Inti dari membangun kehidupan kita adalah hari ini. Hari inilah saat yang sesungguhnya. Saat kita beramal dan menabung amal salih. Kemarin tidak mungkin datang lagi. Yang berlalu pasti sudah lewat. Tidak akan pernah kembali lagi, selama-lamanya. Sedang esok? Maish sangat gelap dan tidak pernah bisa kita duga. Karena itulah Umar bin Khattab sangat marah bila ada orang yang tak mengisi hidupnya, tidak untuk dunia tidak juga untuk akhirat. Ia berkata, "Sesungguhnya aku benci melihat salah seorang di antara kamu berpangku tangan, tanpa amal, baik amal dunia maupun amal akhirat." Sebuah kebencian yang sangat beralasan. Ketika ada orang yang tak mengerti bahwa hidup keseluruhannya adalah momentum. Untuk kebahagiaan dunia maupun akhirat.

Selain itu, kebahagian sebagai momentum memberi bobot lain pada kualitas kita dalam menggunakan momentum itu. Tak sekadar mengisi dengan kesenangan, apalagi kebesaran duniawi semata. Ada banyak rahasia hidup yang tak tampak oleh mata. Maka Ibnul Qayyim memberi nasehat, "Orang yang berakal mengerti bahwa dunia ini tidak diciptakan hanya untuk mencari kesenangan di dalamnya. Karenanya, dalam kondisi apapun ia harus konsisten dalam menggunakan waktunya secara tepat."

Setiap kali kita melewati sepotong waktu, serentang masa, kita harus mengerti bahwa itu adalah kesempatan yang sangat berharga. Itu adalah momentum yang bisa mengantarkan kita ke hamparan bahagia, atau himpitan sengsara. Semua terserah bagaimana kita menjalaninya. Setiap kali waktu datang ia meminta hakya, saat itu juga. Sebab hidup tak mengenal siaran tunda.

0 comments:

Post a Comment