Sunday, December 4, 2011

Story On Bus

Setiap Hari setiap berangkat kerja dari cikarang menuju jakarta, kondisi di dalam bus tidak pernah sepi, selalu ramai oleh lantunan lagu dari para pengamen, para penyair amatir, para pesulap, para preman yang berorasi, para ibu yang bernyanyi dengan menggendong anaknya, dan satu lagi ada penceramah dalam bus. Ya itulah kondisi bus yang setiap hari saya lewati, terkadang hampir 20 pengamen bisa keluar masuk ke dalam bus dengan berbagai macam jenis lagu yang di dendangkan. Mulai dari Bang Toyib ( wali band ) yang menjadi hits, lagu daerah, lagu anak anak jalanan, sampai nyanyian si BISU ( menyanyi dalam hati ). Selain pengamen ada juga mereka yang berusaha menghibur para penumpang dengan berakting / musikalisasi puisi anak jalanan, ada juga pemain sulap dengan trik trik yang sering kita lihat di TV, kadang pula ada pesulap yang bermain dengan mainan yang agak ekstrim, pernah suatu hari saya menemukan seorang bapak ( *katanya pesulap ) yang bermain dengan sebuah silet yang masih tajam dan baru kemudian dia mengiris lidah dan urat nadinya berkali kali, tapi tidak sedikitpun tampak ada bekas sayatan di lidah dan tangannya. Kebetulan posisi duduk saya waktu itu paling depan, jadi si bapak memeragakannya persis di depan saya ( dag dig dug -___-")

Ada juga seorang ibu yang menggendong anaknya kemudian ia membagikan amplop yang sudah agak lusuh kepada para penumpang, kemudian ia dengan sebuah kecrekan ( tutup botol bekas minuman yang di susun dengan kayu kecil ) ia mulai bernyanyi, kebayakan lagu yang di nyanyikan adalah tentang "KASIH SAYANG IBU" sejenak saya terkadang membaca pesan yang di tulisnya di bagian luar amplop kurang lebih isinya adalah :

"Bapak dan ibu yang baik hati, kami mohon bantuannya kepada bapak dan ibu, anak kami sangat membutuhkan dana untuk makan dan membeli susu, semoga setiap amal kebaikan yang bapak ibu berikan dibalas oleh Allah SWT"
namun yang kadang bikin heran adalah, sang ibu begitu gigihnya bernyanyi serta rela berdesak desakan di dalam bus untuk membeli susu atau makanan sang anak, tapi ketika malam hari saya pernah berpapasan dengan sang ibu yang biasa mengamen di bus terlihat sedang nongkrong bersama para pengamen yang lainnya di tol jatibening sambil menghisap SEBATANG ROKOK, wajahnya begitu jelas saya ingat, karena hampir setiap hari saya menemukannya di dalam bus ( jurusan senen-cikarang ). Entah apa yang sang ibu pikirkan ketika pagi harinya ia mengais uang di dalam bus dengan mengendong sang anak yang masih bayi, tapi malamnya ia menghisap batang kematian / rokok dengan para pengamen yang lainnya, ini merupakan kondisi yang sungguh miris,,,,,

Kisah yang lainnya yang sering saya temukan adalah tentunya orasi dari para preman yang biasa menggunakan pakaian yang lusuh, dengan rambut pirang dan panjang, serta telinga yang penuh dengan tindikan dan tangan yang penuh dengan tato, hampir disetiap bus saya menemukan mereka dan orasi yang di berikan persis sama dengan preman yang lain, yang intinya mereka meminta sedikit uang ( 500-1000 rupiah ) untuk sekedar membeli makan atau membeli sebatang ROKOK!!. biasanya mereka datang berdua yang satu sebagai orang yang berorasi dan yang satu hanya sebagai pengumpul uang, dan biasanya mereka muncul tiba tiba dari belakang tempat duduk para penumpang alias pintu belakang bus. berikut orasi yang sering saya dengar dan sedikit hafal ( *tidak untuk di tiru ) :

"Ya Permisi Om Tante, Assalammualaikum Om Tante, kehadiran kita disini bukan buat keonaran atau premanisme om tante, kehadiran kami disini hanyalah sebatas mencari solusi yang pas om tante, kami ini lapar om tante, anda punya perut kami juga punya perut om tante, apa ruginya om tante kalo cuma mengeluarkan uang 500 - 1000 perak om tante, 500-1000 perak gak akan membuat om tante jatuh miskin, inget om tante harta gak akan di bawa mati, om tante jakarta punya cerita, lapar tuan lapar nyonya, banyak orang yang miskin gak punya uang untuk beli makan mereka rela menodong, mencopet, merampas, bahkan ada yang sampai rela menjual dirinya hanya untuk mencukupi kebutuhan hidupnya om tante, om tante tolong lah tolong, kami pun tidak segan segan untuk berbuat kriminal di bus ini, om tante jangan memalingkan wajah anda kearah jendela ataupun pura pura tidur om tante, om tante yang kami harapkan bukanlah kesombongan, keangkuhan dari om tante, tolong lah tolong om tante, kami hanyalah mencari solusi yang pas om tante, IKHLAS DARI ANDA HALAL BUAT KAMI...!!"

kurang lebih seperti itulah orasi yang biasa di lantunkan oleh para preman yang mencari makan dengan berteriak teriak hanya untuk sebungkus nasi dan sebatang ROKOK!!

sampai saat ini saya tidak pernah lagi memberikan mereka uang walaupun 500-1000 rupiah, saya lebih ikhlas dan rela jika uang yang saya dapatkan saya berikan kepada orang orang yang memang fakir miskin atau pun tempat tempat ibadah yang jelas penyaluran dananya.

Sedih rasanya hanya untuk sebatang ROKOK mereka harus rela meminta minta di jalanan ataupun di bus, sesungguhnya jika saya perhatikan secara fisik mereka kuat dan sehat, apa karena keterbatasan lowongan pekerjaan mereka lantas mencari cara dengan mengemis, jika saja mereka tau potensi yang mereka miliki tentu mereka tidak akan menjadi preman.


to be contiune,,,,,


-mnc finance /05/12/2011-

0 comments:

Post a Comment